Guna Percepatan Penurunan Stunting, Dinkes Bungo Gelar “Publikasi Stunting”

Bungo, delikjambi.com — Dalam rangka penguatan komitmen dalam percepatan penurunan angka stunting, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Bungo menggelar “Publikasi Stunting”, Rabu (26/11/2025).

Dalam acara yang digerlar di ruang Aula Cempaka Bappeda Bungo ini, dihadiri oleh Wakil Bupati Bungo Tri Wahyu Hidayat, Kepala Dinas Kesehatan Bungo dr. Safarudding Matondang, Ketua Teknologi KTPS, unsur OPD, tenaga kesehatan, serta lintas sektor terkait.

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Bungo Tri Wahyu Hidayat yang juga merupakan ketua TP3S Kabupaten Bungo menyampaikan, bahwa penanganan stunting tidak boleh berjalan biasa-biasa saja, Pemerintah Daerah harus bergerak cepat, tepat, dan terukur.

“Percepatan wajib dilakukan. Semua sektor harus terlibat, intervensi harus optimal, dan pendataan harus akurat,” tegasnya.

Sementara itu Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bungo dr. Safarudin Matondang mengungkapkan bahwa program MBG yang disampaikan Wakil Bupati diharapkan dapat direalisasikan penuh tahun ini, karena menjadi bagian dari strategi penting dalam menekan angka stunting.

“Alhamdulillah kegiatan publikasi  stunting sudah dibuka oleh Bapak Wakil Bupati. Harapan kita, upaya menurunkan stunting bisa lebih cepat melalui kolaborasi lintas sektor. Termasuk program MBG, semoga segera berjalan maksimal tahun ini,” ujarnya.

Ia menilai bahwa tantangan terbesar saat ini adalah akurasi pendataan stunting. Data yang kurang kuat dapat berpengaruh besar terhadap perhitungan program dan kebijakan intervensi.

“Kita perlu evaluasi ulang kekuatan dan ketepatan data. Pendataan yang akurat menentukan keberhasilan intervensi,” jelasnya.

Saat ini angka stunting di Kabupaten Bungo berada pada 20,4 persen, turun signifikan dari 30,7 persen pada tahun sebelumnya. Namun pemerintah tetap mematok target ambisius: 13 persen pada tahun 2026.

Safarudin menegaskan bahwa pencapaian target ini harus dilakukan melalui pendekatan holistik, penguatan layanan kesehatan ibu dan anak, edukasi gizi, peningkatan sanitasi, dan pelibatan aktif masyarakat.

Selain itu, ia meyakini bahwa penanganan stunting tidak bisa dilakukan satu sektor saja. Semua pihak, termasuk desa, posyandu, kader kesehatan, hingga keluarga harus terlibat aktif.

“Kita harus bergerak bersama, memperkuat intervensi spesifik dan sensitif, serta memastikan seluruh program berjalan serentak,” pungkasnya.

*Dhe