Oleh: Kemal Hidayatullah, M.Pd
Peristiwa pengeroyokan guru oleh murid di Tanjung Jabung Timur bukan sekadar kabar viral. Ia adalah tamparan keras bagi dunia pendidikan kita. Sebab, ketika seorang guru yang seharusnya dilindungi dan dihormati menjadi korban kekerasan di ruang sekolah, maka yang runtuh bukan hanya wibawa guru, tetapi juga nilai dasar pendidikan itu sendiri.
Fenomena murid yang berani melawan, merendahkan, bahkan menyakiti guru hari ini tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan biasa. Ini adalah gejala krisis adab yang serius. Sekolah yang seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan membentuk karakter, perlahan berubah menjadi ruang konflik yang penuh ketegangan.
Harus diakui secara jujur, penghormatan terhadap guru semakin tergerus. Ada murid yang berbicara tanpa etika, menantang guru di ruang kelas, bahkan merasa benar ketika melanggar aturan. Ironisnya, tidak sedikit kasus di mana guru justru diposisikan sebagai pihak yang salah ketika berusaha menegakkan disiplin.
Pendidikan kita terlalu lama sibuk mengejar capaian akademik, namun lalai menanamkan adab. Kurikulum boleh berubah, teknologi boleh canggih, tetapi jika rasa hormat hilang, maka pendidikan kehilangan ruhnya. Ilmu tanpa adab hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara kognitif, tetapi rapuh secara moral.
Peran keluarga juga tidak bisa dilepaskan. Sekolah bukan satu-satunya tempat membentuk karakter anak. Ketika di rumah anak tidak diajarkan menghormati orang yang lebih tua, maka jangan heran jika di sekolah guru diperlakukan tanpa hormat. Orang tua dan sekolah harus kembali berjalan seiring, bukan saling menyalahkan.
Negara pun tidak boleh absen. Guru membutuhkan perlindungan yang nyata, bukan sekadar imbauan. Ketegasan aturan dan keberpihakan pada nilai keadilan harus ditegakkan, agar guru tidak merasa sendirian ketika mendidik dengan disiplin dan tanggung jawab.
Menghormati guru bukan pilihan, melainkan keharusan moral. Murid boleh kritis, boleh menyampaikan pendapat, bahkan boleh berbeda pandangan, tetapi kekerasan dan pelecehan tidak pernah bisa dibenarkan atas nama apa pun.
Jika guru terus dilemahkan, maka jangan berharap pendidikan kita akan kuat. Peristiwa di Tanjab Timur harus menjadi titik balik. Sudah saatnya adab dikembalikan ke panggung utama pendidikan. Sebab, ketika guru dihormati, pendidikan akan bermartabat. Namun ketika guru diinjak, maka masa depan bangsa sedang dipertaruhkan.






