BUNGO, delikjambi.com – Wakil Ketua DPRD Bungo, Darwandi, S.H meminta Aparat Penegak Hukum (APH) untuk turun memeriksa hasil pembangunan gedung Mall Pelayanan Publik (MPP) Kabupaten Bungo.
Kader Gerindra ini menilai ada kesalahan pada pengerjaan renovasi. Walau baru saja dikerjakan pada tahun anggaran 2023 dan 2024, namub pada awal tahun 2025 sejumlah bangunan sudah banyak yang rusak dan tidak berfungsi.
“Informasi yang kami terima plafon sudah ambruk, westafel, wc, dan urinal yang dibangun dengan total anggaran 3,9 Milyar ini tidak bisa digunakan semenjak diserahkan oleh pihak kontraktor kepada Pemerintah Kabupaten Bungo,” ujar Darwandi, Kamis (9/10/2025).
Darwandi mengatakan, jika memang ditemukan kesalahan pengerjaan atau dari perencanaan, ia berharap APH segera bertindak dan memproses secara hukum semua pihak yang turut serta baik dari kontraktor, maupun dari pemilik anggaran.
“Saya berharap APH dapat segera turun. Ini soalnya menyangkut uang negera yang jumlahnya cukup besar. Jika memang ada kesalahan, semua yang terlibat harus bertanggujawab atas perbuatannya,” pinta Darwandi.
Kata Darwandi, jika APH ingin turun harus berdasarkan laporan, ia sendiri siap menjadi pelapor. Sebagai wakil rakyat, ia menginginkan uang yang sudah dikeluarkan oleh negara dapat dipertanggungjawabkan.
“Kami siap memberikan suport kepada APH untuk menindaklanjuti dugaan ini. Kami juga berharap kedepan tidak ada lagi kontraktor yang mengerjakan proyek pemerintah denn asal – asalan sehingga menimbulkan kerugian negara,” tutup Darwandi.
Untuk diketahui, Kabid Cipta Karya Yeni Deriyanti saat dikonfirmasi mengakui bahwa plafon tersebut sudah ambruk dari awal tahun 2025. Yeni beralasan bahwa plafon tersebut roboh karena atap gedung yang rusak.
“Benar, bulan Februari kemaren sudah roboh. Pihak Perizin juga sudah melapor dan meminta kita untuk memperbaikinya. Namun karena keterbatasan anggaran kita, makanya belum bisa diperbaiki,” ujar Yeni, Rabu (1/10/2025).
Saat ditanyakan terkait perencanaan kenapa pembangunan plafon tersebut menggunakan bahan gipsum yang rapuh dan tak tahan air? Yeni menjawab itu mereka lakukan dengan alasan anggaran.
“Dengan anggaran segitu bisanya cuma dengan bahan gipsum. Untuk fasilitas didalam gedung seperti toilet sudah beberapa kali kita perbaiki, malahan diluar anggaran itu kami minta bantu coba untuk memperbaiki. Tapi, masih juga ada yang rusak sepertinya,” tambahnya.
Lebih lanjut Yeni mengungkapkan, diawal pengerjaan proyek tersebut juga terkesan dipaksakan oleh pimpinan, dengan anggara yang minim dan yang jauh dari perencanaan yang telah dibuat sebelumnya.
“Kami diminta untuk merehap bangunan itu secara keseluruhan, dan kami sudah menghitung didalam perencanaan anggaran yang diperlukan kurang lebih Rp 7 milyar. Tapi dianggarkan dan disetujui hanya Rp 3,9 sementara rehab yang diminta tetap secara menyeluruh,” sebutnya.
Dijelaskan Yeni, proyek rehabilitasi gedung MPP Bungo tersebut dikerjakan dengan dua kali penganggaran yakin, pada tahun 2023 dikerjakan oleh CV. Paye More Rawang dengan anggaran 2,1 Milyar dan pada tahun 2024 sebesar 1,8 Milyar yang dikerjakan dengan rekanan berbeda.
“Untuk anggaran kurang lebih 2,1 milyar pada tahun 2023 itu digunakan untuk pergantian atap, plafon dan cat. Sementara penganggaran 1,8 milyarpada tahun 2024 digunakan untuk interior dan toilet,” tutupnya.
**







